GTO, efektifkah?

Belum lama ini, PT Jasa Marga khususnya Cabang Purbaleunyi mengimpleemtasikan suatu teknologi di gerbang masuk Baros dan Pasteur yang berkaitan dengan pelayanan jalan tol. Teknologi tersebut mereka namakan GTO (Gerbang Tanpa Orang). Teknologi tersebut secara ringkas memiliki fungsi untuk menggantikan orang yang bertugas memberikan tiket masuk bagi pengguna jalan tol menjadi semi otomatis. Menagap saya katakan semi otomatis? karena pengambilan tiket tersebut masih membutuhkan effort pengguna jalan tol, yaitu dengan memencet tombol terlebih dahulu baru  tiket tersebut keluar, jadi tidak otomatis bukan. Entah apa tujuan dari PT Jasa MArga menerapkan teknologi ini, padahal di luar negeri, malaysia saja contohnya, mereka sudah menggunakan teknologi RFID (Radio freq Identity) untuk membuat efektif dan efisien pembayaran jalan tol. Kalau boleh menerka, PT Jasa Marga hanya ingin menggantikan operator pemberi tiket dengan mesin sehingga operator tersebut bisa ditugaskan hanya fokus pada pembayaran. Akan tetapi teknologi ini menyisakan beberapa kelemahan, yaitu :
– Hanya melayani satu jenis golongan mobil
– Tidak mengurangi antrian, karena waktu pengambilan tiket secara manual maupun semi otomatis tidak jauh berbeda
-Rentan kekeliruan pengguna jalan tol dalam memilih gerbang

Tampaknya PT Jasa Marga masih belum berani dalam melakukan perubahan proses bisnisnya, sehingga teknologi yang diterapkan dalam pelayanannya tidak memiliki dampak yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pelayanan. Yang jadi maslaah sebenarnya adalah antrian pembayaran tol, karena berbagai macam variasi tarif dan jenis kendaraan, jikalau PT Jasa Marga jeli atau mau buka mata, seharusnya proses bisnis ini yang harus menjadi perhatian. Dampaknya memang
terasa kalau RFID jadi pilihan dalam pembeyaran tarif tol, yaitu tidak ada lagi petugas jalan tol di tiap gardu, mungkin hanya menyisakan beberapa sebagai ‘helpdesk’. Ya, mau tidak mau ini harus menjadi perhatian karena berhubungan secara alngsung dengan core bisnis yan gmereka jalankan, services..zaman gini, services tidak berbasiskan kepuasan konsumen ya siap2 aja ditinggalkan pelanggan, tapi untuk kasus jalan tol yang mau tak mau pemainnya ga punya
saingan, maksimal juga kena kritik pengguna, paling banter di surat pembaca atau blog seperti ini. Ya, pada akhirnya klo ditanya efektif kah GTO perspektif pengguna? jawaban saya tidak!! TErus terang saya lebih memilih gardu yang dijaga orang, karena effort saya untuk mengambil tiket, yang harus memencet tombol, kemudian mengerahkan tenaga lagi untuk mengambil tiket di output sebelah tombol, saya rasakan tidak sesimpel ketimbang menyambar tiket yang diberikan
petugas tol,hehehe

  1. #1 by Bhayo Semeroe on September 22, 2010 - 06:00

    Salam Kenal !, Saran dan kritikannya mantap !!, ijin tag yah di Page saya. Nuhun : http://www.facebook.com/pages/Manajeumen-RusuhTM-Cutting-Sticker-Dept/426351210297

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: